Entah,mengapa hatiku tiba-tiba tergerak untuk menuangkan kebahagiaanku di lembaran blog ini.
Ya, sms dari rekan kerjaku seolah mengajak aku untuk menuliskannya disini. Kumulai dari hari Senin tepatnya tanggal 13 April 2009. Disela-sela liputan,aku menerima SMS dari teman kerjaku.
Isinya, “Apa kamu sudah tahu kalau sebagian dari anak-anak sudah terangkat?” jawabanku tentu saja tidak, sebab aku memang tidak mengetahui hal itu. Lalu ia menjelaskan lebih rinci. Dan aku membalas dengan kata, “Syukurlah”.
Siangnya aku ke kantor. Teman yang tadinya mengirimkan SMS padaku, pun menceritakan banyak hal. Bukan hanya kepada aku saja didalam ruangan, ada dua orang teman lainnya.
Dia menceritakan kekecewaannya, juga menceritakan kalo sebelumnya ia sempat curhat pada redaktur. Yang intinya jika tidak terangkat ia akan pindah. Dia menceritakan hal itu, sebelum ia tahu kalau dirinya sudah terangkat. Waktu itu, saya hanya bertindak sebagai pendengar setia.
Karena memang aku tidak peduli soal pengangkatan. Bukan tidak peduli, tetapi aku siap menerima apa yang akan terjadi padaku sekali pun itu menyedihkan.
Setengah jam setelah temanku itu berkicau, teman kerja yang lainnya mengantarkan SK. Memberikan kepada kami semua yang berada dalam ruang redaksi.
Aku melihat kearah temanku yang tadi banyak bicara. Kertas yang diterimanya berbeda dengan aku. Yang artinya dia terangkat, sementara aku tidak. Lalu, aku menatapnya. Dia yang tadinya sibuk cerita banyak hal, diam seribu bahasa. Dalam hati aku merasa geli melihatnya.
Tiba-tiba aku berfikir, bagaimana reaksinya jika ia yang menerima SK yang aku terima. Mungkin, ia sudah berontak. Untung saja perpanjangan kontrak aku yang terima, sehingga suasana menjadi aman. Tuhan memang adil.
Malamnya ia mengirimkan SMS lagi padaku, isinya “Saya sangat kecewa pada kantor sebab ada yang tidak layak terus diangkat,”. Serentak aku menjawabnya. “Mengapa kau kecewakan orang lain, rezki kita kan beda-beda,” Lalu ia menjawabnya, “tolong cari tau lagi seperti apa kriteria pengangkatan itu,sebab saya sudah mencari tahu keseluruh radaktur.
Aku kembali membalasnya,dengan kalimat “saya tidak peduli akan hal itu. Hari ini saya hanya mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan,”. Lalu ia mengatakan, “Kamu kan dekat dengan K Aca, coba cari tau,” aku semakin bingung dan bertanya ada apa sebenarnya.
Lalu kutegaskan, “saya dengan K Aca memang dekat tetapi tidak untuk membicarakan hal itu. Hanya seputar masalah keluarga saja. Dan setelah itu, dia tidak membalas SMS ku lagi. Saya pun kembali lega.
Sungguh aneh teman-temanku,Aku merasakan itu. entah mengapa tiba-tiba aku merasa ada yang tidak beres dengannya. Tetapi aku tidak peduli, aku terus ikuti kemana kakiku melangkah.
Soal pengangkatan, Sebagai tenaga kontrak yang sudah setahun mengabdi dan juga diawal-awal SINDO berdiri, saya juga sempat menjadi pemeran utama bahkan memikirkan isu pertama yang bagus diangkat pada saat koran terbit, dan juga paling sering pulang pada pukul 02.00 wita. Tentu saja saya juga ingin, dipertimbangkan menjadi karyawan. Tetapi, melihat kinerja yang mulai merosot harapan itu tidak adalagi. Saya mulai tidak peduli. Tetapi bukan berarti saya cuek akan kebijakan kantor.
Terus terang, tidak terangkatnya saya menjadi karyawan, tidak pernah melahirkan kekecewaan dalam hatiku, apalagi sampai melukai persaanku. Makanya, aku selalu merasa heran dengan teman-teman yang lain, yang mau proteslah sampai kecewa sangat dalamlah, aku heran melihat mereka.
Yang hadir dibenakku saat ini, aku merasa bahagia melihat semua teman-temanku telah terangkat menjadi karyawan. Yang artinya impian mereka sudah terwujud. Itu kebahagiaan terbesar yang aku rasakan.
Lalu, aku mengabari K Nanang. Teman yang saat ini sangat dekat denganku. Aku menceritakan kalau rezki belum berpihak padaku, aku belum menjadi karyawan SINDO dan menunggu satu tahun lagi untuk mendapatkan gelar itu.
Serentak ia berkata. Sabar dan tabah ya, reski orang beda-beda. Ada kebahagiaan lain yang akan diberikan Tuhan pada setiap hambanya, yang tentunya berbeda dengan yang lainnya.
Aku sangat bahagia mendengarnya. Ternyata apa yang aku pikirkan sama dengan yang ia pikirkan. Kita tidak boleh kecewa akan hal yang bersifat duniawi. Syukurlah ia bisa merasakan apa yang aku rasakan, memang pengangkatan tidak pernah menghadirkan kekecewaan dihatiku, sebaliknya mendatangkan semangatku untuk meraih kebahagiaan lain.
Sejenak, kami terdiam di penjual nasi bakar. Dalam hati aku berkata, hampir saja aku terpengaruh dengan SMS-SMS yang dikirim oleh temanku, yang isinya seolah-olah mengajakku untuk kecewa. tetapi Berkat petunjuk-NYA aku bisa sabar dan sedikitpun tidak merasa kecewa, apalagi sampai putus asa.
Keinginan terbesarku saat ini, bagaimana aku berjuang agar bisa mendapatkan gelar M.Si, dengan begitu impianku membahagiakan kedua orang tuaku akan terwujud.
Tuhan, Terima Kasih Banyak. Berkat Engkau aku tidak terpengaruh, apalagi sampai kecewa.
Hari Pertama Masuk Kerja, di Ruang Kerja gubernur. HEHEHE ada shalat dan syukuran kecil-kecilan.





</a




