Warna Baru Kebahagiaanku
16 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
Entah,mengapa hatiku tiba-tiba tergerak untuk menuangkan kebahagiaanku di lembaran blog ini.
Ya, sms dari rekan kerjaku seolah mengajak aku untuk menuliskannya disini. Kumulai dari hari Senin tepatnya tanggal 13 April 2009. Disela-sela liputan,aku menerima SMS dari teman kerjaku.
Isinya, “Apa kamu sudah tahu kalau sebagian dari anak-anak sudah terangkat?” jawabanku tentu saja tidak, sebab aku memang tidak mengetahui hal itu. Lalu ia menjelaskan lebih rinci. Dan aku membalas dengan kata, “Syukurlah”.
Siangnya aku ke kantor. Teman yang tadinya mengirimkan SMS padaku, pun menceritakan banyak hal. Bukan hanya kepada aku saja didalam ruangan, ada dua orang teman lainnya.
Dia menceritakan kekecewaannya, juga menceritakan kalo sebelumnya ia sempat curhat pada redaktur. Yang intinya jika tidak terangkat ia akan pindah. Dia menceritakan hal itu, sebelum ia tahu kalau dirinya sudah terangkat. Waktu itu, saya hanya bertindak sebagai pendengar setia.
Karena memang aku tidak peduli soal pengangkatan. Bukan tidak peduli, tetapi aku siap menerima apa yang akan terjadi padaku sekali pun itu menyedihkan.
Setengah jam setelah temanku itu berkicau, teman kerja yang lainnya mengantarkan SK. Memberikan kepada kami semua yang berada dalam ruang redaksi.
Aku melihat kearah temanku yang tadi banyak bicara. Kertas yang diterimanya berbeda dengan aku. Yang artinya dia terangkat, sementara aku tidak. Lalu, aku menatapnya. Dia yang tadinya sibuk cerita banyak hal, diam seribu bahasa. Dalam hati aku merasa geli melihatnya.
Tiba-tiba aku berfikir, bagaimana reaksinya jika ia yang menerima SK yang aku terima. Mungkin, ia sudah berontak. Untung saja perpanjangan kontrak aku yang terima, sehingga suasana menjadi aman. Tuhan memang adil.
Malamnya ia mengirimkan SMS lagi padaku, isinya “Saya sangat kecewa pada kantor sebab ada yang tidak layak terus diangkat,”. Serentak aku menjawabnya. “Mengapa kau kecewakan orang lain, rezki kita kan beda-beda,” Lalu ia menjawabnya, “tolong cari tau lagi seperti apa kriteria pengangkatan itu,sebab saya sudah mencari tahu keseluruh radaktur.
Aku kembali membalasnya,dengan kalimat “saya tidak peduli akan hal itu. Hari ini saya hanya mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan,”. Lalu ia mengatakan, “Kamu kan dekat dengan K Aca, coba cari tau,” aku semakin bingung dan bertanya ada apa sebenarnya.
Lalu kutegaskan, “saya dengan K Aca memang dekat tetapi tidak untuk membicarakan hal itu. Hanya seputar masalah keluarga saja. Dan setelah itu, dia tidak membalas SMS ku lagi. Saya pun kembali lega.
Sungguh aneh teman-temanku,Aku merasakan itu. entah mengapa tiba-tiba aku merasa ada yang tidak beres dengannya. Tetapi aku tidak peduli, aku terus ikuti kemana kakiku melangkah.
Soal pengangkatan, Sebagai tenaga kontrak yang sudah setahun mengabdi dan juga diawal-awal SINDO berdiri, saya juga sempat menjadi pemeran utama bahkan memikirkan isu pertama yang bagus diangkat pada saat koran terbit, dan juga paling sering pulang pada pukul 02.00 wita. Tentu saja saya juga ingin, dipertimbangkan menjadi karyawan. Tetapi, melihat kinerja yang mulai merosot harapan itu tidak adalagi. Saya mulai tidak peduli. Tetapi bukan berarti saya cuek akan kebijakan kantor.
Terus terang, tidak terangkatnya saya menjadi karyawan, tidak pernah melahirkan kekecewaan dalam hatiku, apalagi sampai melukai persaanku. Makanya, aku selalu merasa heran dengan teman-teman yang lain, yang mau proteslah sampai kecewa sangat dalamlah, aku heran melihat mereka.
Yang hadir dibenakku saat ini, aku merasa bahagia melihat semua teman-temanku telah terangkat menjadi karyawan. Yang artinya impian mereka sudah terwujud. Itu kebahagiaan terbesar yang aku rasakan.
Lalu, aku mengabari K Nanang. Teman yang saat ini sangat dekat denganku. Aku menceritakan kalau rezki belum berpihak padaku, aku belum menjadi karyawan SINDO dan menunggu satu tahun lagi untuk mendapatkan gelar itu.
Serentak ia berkata. Sabar dan tabah ya, reski orang beda-beda. Ada kebahagiaan lain yang akan diberikan Tuhan pada setiap hambanya, yang tentunya berbeda dengan yang lainnya.
Aku sangat bahagia mendengarnya. Ternyata apa yang aku pikirkan sama dengan yang ia pikirkan. Kita tidak boleh kecewa akan hal yang bersifat duniawi. Syukurlah ia bisa merasakan apa yang aku rasakan, memang pengangkatan tidak pernah menghadirkan kekecewaan dihatiku, sebaliknya mendatangkan semangatku untuk meraih kebahagiaan lain.
Sejenak, kami terdiam di penjual nasi bakar. Dalam hati aku berkata, hampir saja aku terpengaruh dengan SMS-SMS yang dikirim oleh temanku, yang isinya seolah-olah mengajakku untuk kecewa. tetapi Berkat petunjuk-NYA aku bisa sabar dan sedikitpun tidak merasa kecewa, apalagi sampai putus asa.
Keinginan terbesarku saat ini, bagaimana aku berjuang agar bisa mendapatkan gelar M.Si, dengan begitu impianku membahagiakan kedua orang tuaku akan terwujud.
Tuhan, Terima Kasih Banyak. Berkat Engkau aku tidak terpengaruh, apalagi sampai kecewa.
15 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
Hari Pertama Masuk Kerja, di Ruang Kerja gubernur. HEHEHE ada shalat dan syukuran kecil-kecilan.
Pejabat-pejabat itu Lucu
15 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
Masih setahun kepemimpinan P Syahrul. Saya teringat akan seruhnya pejabat-pejabat Pemprov era Amin Syam.
Mereka semua lucu-lucu, gayanya aneh-aneh. Ya, waktu P Syahrul masih menjabat sebagai Wakil Gubernur. Beberapa Kepala Dinas, selalu menghindari ruangan yang terletak di sebelah kiri Gedung A lantai II itu.
Bukan hanya itu, mereka bahkan kelihatn sangat takut untuk merabat, meski hanya lewat didepan ruangan itu saja. HAHAHAHAHAHa
Tetapi, setelah Wakil Gubernur Sulsel menjadi Gubernur, sejumlah pejabat yang tadinya cuek. mulai membersihkan diri, untuk CCM (cari-cari muka). Memang banyak yang aneh, jika saya memperhatikan selangkah demi selangkah kegiatan di Kantor gubernur.
Utamanya, Kadisperindag, Kadis Pertanian dan masih banyak lagi Kadis yang lain. Selain itu, banyak juga yang sengaja pindah tugas. Akh sudalah, capek nulisnya yang sebenarya sih boanyak sekali yang meski di tuangkan. Takut nanti ada yang tersinggung. hehehehehehehe
Setahun Kepemimpinan Syahrul dan Wartawan Pemprov
15 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
Entah kenapa saya tertarik menulis sejumlah kalimat tentang setahun kepemimpinan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, di blog yang sederhana ini. Tidak terasa perjuangan panjang itu, telah berjalan selama setahun.
Tetapi, saya mungkin tidak akan bercerita tentang pendidikan dan kesehatan gratis yang menjadi program utama tersebut. Ada sebuah kisah unik, yang beberapa hari ini terasa menggelikan, apalagi mengingat masa-masa liputan di Pemprov. Lucu memang sungguh lucu.
Ya, setahun kepemimpinan P Syahrul mengingatkan saya akan a tahun silam. Waktu itu Sulsel masih dipimpin Amin Syam, dan P Syahrul Wakilnya. Seruh juga sih mengenangnya, apalagi harus menulis perang dingin yang kerap kali tersirat antara pengikut kedua pemimpin. (seperti itu kami menyebutnya). Bukan hanya itu, wartawan yang meliput disana juga terkesan terbagi-bagi dan kadang saling menjelek-jelekkan.
Pertama mungkin saya akan sedikit melukiskan sedikit kisahku, sejak pertama menjadi wartawan, ets ini ada kaitannya loh dengan judul sekalipun tidak beraturan.
Ya, waktu itu saya bekerja di Upeks (Ujung Pandang Ekspres). Waow, sejak tahu di poskokan di Pemprov, saya sih sempat nolak. Dan membayangkan birokrasi disana. Tetapi hati kecil berkata ini tantangan. Akhirnya kujalani.
Jadilah saya wartawan Kantor Gubernur, tahun 2005. Seperti itu yang tertulis pada kartu pengenal yang dikeluarkan oleh Humas Pemprov, warnanya merah. Kami berjumlah 10 orang dari berbagai media. Tiga orang cewek dan 7 orang cowok.
Liputan hari pertama berjalan normal, saya bisa beradaptasi dengan teman-teman, hingga masuk usia tiga bulan. Dan setelah itu, saya yang tadinya lugu mulai mengerti mengapa, teman-teman selalu memandangku aneh, setiap kali saya masuk ke ruang Wakil Gubernur untuk meliput.
Pertanyaan yang sering muncul, itu akhirnya terjawab juga. Saya baru mengerti kalo orang-orang P Amin, (Maksudnya orang terdekatnya, seperti ajudannya, dan beberapa kepala biro yang dekat dengannya) sering kesal jika melihat saya liputan di ruang Wagub lalu berpindah lagi ke ruang gubernur.
Benar-benar aneh, padahal saya kan hanya menjalankan tugas sebagai wartawan. Apalagi di upeks, gaji ditentukan berdasarkan banyaknya berita. (jadi terus terang saya kejar poin kodong). seperti itulah yang terjadi di Kantor Gubernur kala itu.
Namun, saya tidak peduli. Saya tetap menjalankan tugas untuk cari berita dan tidak peduli dengan orang-orang sekitar. Saya mau bebas bisa meliput dimana saja.
Singkat cerita beberapa kali saya menulis berita tentang P Amin dan juga sejumlah kegiatan P Syahrul. Dan beberapa kali juga saya mendapatkan sms dari ajudan gubernur yang waktu itu Ajudan P Amin, berisikan “Jangan selalu menulis berita yang menyudutkan gubernur,”. SMS itu bukan yang terakhir, ketika saya ikut rombongan gubernur ke panen raya di Takalar. Saya melihat rombongan ibu-ibu dharmawanita, membagikan kaos kepada sejumlah petani yang bergambar P Amin.
Saya didatangi humas, katanya ini bukan berita. Waktu itu saya hanya mengangguk. Bagikan ribuan kaos ke petani, padahal waktu kampanye belum dimulai itu kan berita bagus. hehehehe. Selama di Humas saya merasa wartawan yang paling sering membuat P Annas GS gelisah. (Huahahahaha).
Saya juga pernah disebut pendukung Syahrul. Padahal saya tidak pernah merasa seperti itu. Saya tidak pernah merasa dekat dengan P Syahrul, hanya sebatas wawancara. Yang membuat saya senang meliput di Ruang wagub, stafnya ramah-ramah dan tidak pernah intervensi berita. Diluar dari itu, saya orang yang paling cuek, setelah liputan.
Lalu, mulai terlihat kubu-kubu di ruang humas. Ruang yang seharusnya merupakan tempat wartawan bisa tenang dan mendapatkan informasi, eh malah dijadikan sebagai tempat yang tidak nyaman. (Ini kisah waktu itu).
kenangan lain, liputan di Rujab. Disaat semua wartawan mulai meliput kegiatan P Amin. Saya datang terlambat, pada saat itu salah seorang staf humas langsung berkata, habis dari rumahnya P wagub ya.
Sungguh menyedihkan dituduh yang tidak-tidak. Mulai saat itu, saya mulai merasa tidak nyaman. akhinya saya dipindahkan ke DPRD Makassar. Tahun 2006 saya mulai meliput kegiatan dewan.
Lalu Aku….
09 Mar 2009 2 Komentar
Lalu, akupun mulai berteman dengan sepi, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Ya, selama 28 tahun berjalan dan bersahabat dengan sepi.
Hingga akhirnya memasuki tahun ke 28, ada sesuatu yang menyentak dan memaksaku untuk menghilangkan segala bentuk keraguan. Keraguan yang selalu ada sejak duduk di bangku SMA hingga memasuki usiaku yang ke 28. Keraguan tentang seorang lawan jenis. Uuuupss, dulu aku tidak ingin menjalin hubungan lebih jauh, takut dan waspada, kedua kata itulah yang mengajak aku untuk berteman sepi dan menghayal. Bukan hanya itu, aku juga tidak percaya pada sosok seorang lelaki.
Tetapi, di usiaku yang ke 28 tahun ini. Tiba-tiba, menggerakkan hatiku untuk menerimanya. Dialah, orang pertama hadir dalam kehidupanku, setelah sekian lama. Mulanya, aku juga ragu, untuk menjadikan dia yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Tetapi, setelah beberapa hari mengenalnya, sepertinya sih, dia bukan golongan lelaki jahat yang selalu hadir dalam hayalanku.
Singkat kata, kami mulai jalan bersama. Hampir setiap hari dalam perjalanan ke kantor dan pulang kantor. Kenyataan itu, berjalan selama dua tahun, dan selanjutnya kami kembali berpisah untuk sementara.Seperti inikah rasanya, pertanyaan itu selalu hadir dalam hatiku.
Tetapi, aku tidak merasa kehilangan. sebaliknya aku merasa dia lebih dekat meski berada di seberang pulau. Sms dan telpon yang datang setiap saat membuatku merasa kehadirannya sangat berarti. Berteman dengannya menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagiku yang mungkin sulit kurangkai dalam kalimat.
Hanya satu yang bisa kuingat, seandainya aku dipertemukan lebih cepat dengannya, mungkin pula sejak dari dulu aku merasakan satu bentuk kebahagiaan tersendiri yang dihadirkan olehnya. “Kebahagiaanku Yang Tertunda,” seperti itu aku menyebut hidupku.
“Selaluji kita bikin semangatka d, suarata yang manja saja bisa membuat saya bangkit dari tidur.Apalagi dengan apa yang kita lakukan selama ini, karena kita adalah cahaya yang mulaimembuka tabir yang selama ini hilang. Saya sayangki de, “mmmuach.”
seperti itu kalimat yang terkirim lewat sms di malam minggu, setelah ngobrol di telpon selama dua jam. 
Senangnya Hatiku
09 Mar 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
alangkah senangnya hatiku, sudah dua hari ini, saya mengikuti acara diklat identitas Unhas.
Ngumpul-ngumpul ma teman-teman dan senior, mengingatkan saya pada masa lalu, masa dimana saya juga pernah seperti peserta diklat.
Sungguh sesuatu yang tidak bisa saya bayangkan, ketika saya hadir disana. Suasana kekeluargaan kembali tercipta
Kambing Jantan
06 Mar 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
abis nonton Film Raditya Dika Kambing Jantan. Wah seruh, asyik dan gak tau ah, gimana jelasinnya
Valentine
14 Feb 2009 1 Komentar
Sayang, Kapanpun waktu bergulir, dimanapun tempat aku berdiri, bagaimanapun bentuk terukir. Kasih Sayangku tiada terkikis karena kesejukan tertuju disaat kita saling mengisi. I Love You. kalimat itu terkirim melalului sms, di malam Valentine. Malam yang menurut orang adalah Malam Kasih Sayang, sebab besok akan dirayakan hari kasih sayang. Setiap tahun, saya selalu mendapatkan ucapan kasih sayang dari semua teman-teman. Tetapi, kenangan akan satu hal di hari valentine, terukir begitu indah sampai saya kesulitan untuk menghapus peristiwa berharga itu. UUUPS, sms semalam ternyata sudah mampu menghilangkan kenanganku, meski sebelumnya saya sempat kecewa terhadap si empunya sms, soalnya dia memang menyebalkan.
Menjemuhkan
12 Feb 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
Sungguh hari ini sangat menjemuhkan. Hujan deras mengguyur Makassar, tetapi tidak bisa menghalangi langkah kami untuk mengejar berita. Dingin, mulai menyatu. ets, hari ini saya dapat giliran buat picer tetapi sayang sekali saya tidak punya persiapan, dan akhirnya saya buat yang asal-asalan saja. Setelah itum dapat giliran lagi buat corak. HUhUHUHUHU, rubrik yang satu ini memang sangat menjemukan.
Kedua Anak Itu, Lebih Tabah Dariku
24 Jan 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
Dulu, semasa kecil. Sewaktu masih duduk di bangku SD. Saya sangat takut kehilangan kedua orang tua, dan juga saudara-saudaraku. Sekalipun pada waktu itu, aku tahu. bahwa kehidupan didunia ini, tidak akan kekal selamanya.
Tetapi rasanya tidak rela jika Tuhan, mengambilnya lebih awal dari saya. Ya, saya sangat takut kehilangan kedua orang tua, nenek dan juga keluargaku. Intinya saya sangat takut kehilangan orang-orang yang aku sayangi.
Sejak kami enam bersaudara sudah besar, kakak dan adik saya yang ketiga memilih untuk melanjutkan kuliah di Pulau Jawa. Waktu itu saya selalu membayangkan kalau terjadi sesuatu terhadap mereka, di kampung orang. Apa jadinya? Siapa yang akan membantunya. Alhamdulillah, semua yang mengganggu pikiranku tentang kehilangan belum terjadi.
Kakak dan adikku menyelesaikan studinya dan kembali ke Makassar dengan selamat. Mereka bahkan mendapatkan perempuan idamannya di kota tempat mereka menuntut ilmu.Dan kami, enam bersaudara kembali berkumpul di rumah yang sederhana, meski saudara-saudaraku sudah dikaruniai anak.
Alangkah ramainya suasana rumah, tiga keluarga berkumpul dan masing-masing dikaruniai dua orang anak. Kebahagian pun kembali terasa dengan adanya suara riang anak kecil di rumah, meski mereka semua sangat nakal.
Lalu, ketakutan kembali muncul, saat nenek, ibu dari Ibuku Sakit. Aku kembali merasakan takut. Tidak bisa kubayangkan, seorang nenek yang sejak kecil menjaga kami, jika kedua orang tuaku sibuk bekerja di kantor, nenek selalu bersikap adil kepada kami berenam. Dia, memasak dan menemani kami sepanjang hari. Saya takut kehilangan sosoknya, sangat takut.
Lalu, terbayang saat aku sakit, nenek selalu berada disisiku. Memberikan perhatian penuh kepadaku.
Singkat cerita kekhawatiranku pun hilang, nenek sembuh dan sehat. Bahkan diusianya yang ke 94 tahun, ia masih terlihat kuat bermain dengan cicit-cicinya.
Lalu, keluargaku kembali bahagia. Adik kelimaku yang sudah berkeluarga, melahirkan anak keduanya yang juga perempuan dengan normal, dan sehat-sehat. Sehingga usianya sebulan, bayi manis itu belum diberi nama. Kami hanya memanggil dengan sebutan Cime. Kata ibuku, seperti itulah panggilan kecilnya, karena kakaknya yang masih berusia 4 tahun dipanggil Cimo.
Sebenarnya kedengarannya lucu juga. Tetapi, ayahnya (adik iparku) setuju saja dengan sebutan itu. Jadilah kami, memanggilnya Cime.
Dari-hari ke hari, usia Cime pun bertambah, ia sangat menggemaskan. Disaat usianya memasuki dua bulan, ayahnya sakit. Awalnya sih sakit biasa, hanya demam, kemudian maag. Selama sakit, ia hanya menjalani perawatan di rumah. Hingga akhirnya penyakitnya semakin parah, dan dokter menganjurkan agar dirawat di rumah sakit saja.
Aku masih ingat, 10 ramadan tepatnya Bulan September 2008. Saat itu kami sedang sibuk- sibuknya bangun sahur. Yudi (ayah Cime), tiba-tiba menelpon orang tuanya. Ia sudah tidak tahan lagi menahan sakit yang saat itu hanya Maag. Saat itupula kedua orang tuanya datang dan membawanya ke RS Palamonia.
Saya tidak bisa membayangkan, itulah hari terakhir ia berada di rumah. Saya tidak bisa membayangkan, saya bahkan tidak pernah membayangkan kalau kepergiannya malam itu ke rumah sakit, merupakan yang terakhir kalinya, dan tidak pernah lagi kembali ke rumah.
Ya, saat meninggalkan rumah, meski tubuhnya sudah sangat kurus. Tetapi, ia masih bisa jalan hingga naik kendaraan. Ia masih sempat mencium bayinya, dan juga berjanji pada Cimo (anaknya yang 4 tahun) “Nanti kalo bapak sembuh, kita pergi bermain-main ya, di Carrefour” itu kalimat terakhir yang diucapkannya pada Cimo.
Tepat sebulan di Rumah Sakit, tanggal 10 Oktober. Malam itu, saya masih di kantor. Baru pulang dari Pesta Perkawinan Warny, temanku. Tiba-tiba saya mendapat telepon kalau Yudi telah meninggal di Rumah Sakit. Hanya Tuhan, yang tahu, Waktu itu saya langsung mengingat kedua anaknya yang lucu-lucu. Keduanya masih, kecil. Masih terlalu muda untuk menjadi Yatim.
Lalu, saya menangis. Cimo dan Cime, dua anak perempuan yang tidak berdosa, belum mendapatkan kasih sayang penuh dari ayahnya. Bagaimana nanti jika ia sudah besar, dan mencari sosok ayahnya?
Dalam suasana sedih, saya langsung ke rumah sakit ditemani oleh teman saya. Setiba disana, saya dengar jenazahnya akan dibawa ke rumah sayahnya di Jl Ratulangi bukan di rumahku. Serentak aku kembali ke rumah, meski saat itu sudah pukul 24.00 wita.
Ya, setiba di rumah di Minasa Upa. Saya langsung membangunkan bayi kecil yang mungil itu, kuraih jaket dan memakaikannya. Setelah itu kembali aku membangunkan Cimo, bocah kecil yang lucu. “Kita mau kemana, saya mau tidur,” saat itu cimo masih sempat berontak. Karena memang sudah larut malam. Ketika kukatakan kita akan ke rumah sakit, jenguk ayahmu. Ia kembali berontak, “tidak mau tadi pagi sudah kesana,” katanya.
Cimo benar, pagi sebelum ayahnya meninggal. Ia masih sempat menjenguknya di rumah sakit. Saya terus membujuk hingga ia mau ikut. Sepanjang perjalanan menuju Ratulangi, saya memeluknya erat sambil menangis. Sepanjang perjalanan ia tampak bingung, apalagi saat tiba di Ratulangi dan melihat banyak orang yang berkumpul didepan rumah kakeknya.
Dari wajahnya tidak memancarkan kesedihan, meski ibu dan neneknya sudah memberitahu, kalau yang terbaring dibalik kain panjang itu adalah bapaknya. Ia bahkan tidak percaya, berkali-kali ia mengatakan, “bapak saya di rumah sakit,”.
Kalimat itu terus diucapkannya, hingga ayahnya diantar ke kuburan. Sejak jenazahnya masih berada di rumah, sedikitpun Cimo tidak pernah mendekat, apalagi ingin melihat wajah ayahnya.
Baik Cimo maupun Cime tidak pernah memperlihatkan kesedihan, padahal yang terbaring kaku tak bernyawa dihadapannya, itu adalah ayahnya. Orang yang semasa hidupnya memberi seuatu yang berarti untuknya, setidaknya memberikan kasih sayang dan juga nafkah.

Humaerah